Pesta Rakyat Pelantikan Jokowi

Masih kerasa euphoria rakyat Indonesia saat presiden dan wakil presiden terpilih Jokowi dan Jusuf Kalla dilantik pada hari Senin tanggal 20 Oktober 2014. Hampir semua media pemberitaan pada hari itu meliput tentang hari bersejarah tersebut. Ditambah lagi, diadakannya pesta rakyat yang untuk menyambut presiden baru menempati istana negara menambah kemeriahan pada hari itu. Pesta rakyat pelantikan Jokowi tersebut tak tanggung-tanggung. Jalan utama di Ibukota ditutup pada hari itu. Kawasan Monumen Nasional (Monas) dijadikan pusat kemeriahaan, 2 panggung dibangung didalam kawasan monas. 12000 porsi makanan disediakan gratis untuk semua warga yang datang pada hari itu ke kawasan monas untuk meramaikan suasana. Gw pun tertarik untuk ikut dan melihat-lihat bagaimana suasana pada hari itu. Plus sedikit meliput untuk dibagikan ceritanya kepada kamu.

Jam 11 sudah bersiap berangkat. Menaiki kereta commuter line dari manggarai menuju stasiun Juanda. Antusias warga sudah terlihat didalam stasiun tempat saya menunggu kereta. Peron tempat menunggu commuter jurusan ke stasiun kota dipenuhi oleh warga. Anak-anak kecil juga tak mau kalah. Belum lagi para penggemar grup band slank yang berduyun-duyun berkelompok duduk dilantai peron. Hal itu membuat gw takjub, baru kali ini gw ngeliat kalo para remaja juga antusias menyambut presiden baru mereka.

Jam setengah 12 siang gw sampai di stasiun Juanda Jakarta. Gw nunggu temen dulu disini, buat nemenin gw dan jadi guide buat nunjukin arah jalan ke monas dari stasiun. Maklum, gw bukan warga Ibukota. Setelah kami bertemu, kami melanjutkan perjalanan. Dari stasiun Juanda ternyata ga jauh untuk menuju kawasan monas. Hanya perlu menyebrang melalui jembatan penyebrangan ke arah mesjid Istiqlal (kalo ga salah, gw agak lupa, sekali lagi maklum, gw bukan warga Ibukota). Saat menaiki jembatan penyebrangan, kerasa lagi antusias warga menghadiri acara tersebut. Antrian panjang terjadi didepan anak tangga jembatan penyebrangan. Hal itu juga terjadi saat ingin menuruni jembatan, harus antri lagi. “Keren…..” pikirku sejenak, warga seperti hendak menonton girl band korea, berdesakan.

Setelah sampai diseberang, gw dan temen gw melanjutkan jalan kaki kami melalui sebuah jalan kecil yang hanya bisa dilewati satu mobil. Sampai akhirnya kami sampai di depan pintu gerbang kawasan Monas. Aparat gabungan yang emang sudah disiapkan dari beberapa hari yang lalu berjaga ketat dipintu. Teriakan-teriakan mereka untuk menertibkan warga yang ingin masuk melalui pintu gerbang memekik. Emank sedikit susah membudayakan tertib untuk warga negara kita tercinta ini. Para aparat harus berteriak sampai urat nadinya keluar. Gw sendiri udah beberapa kali diserobot saat ingin memasuki gerbang kecil pintu masuk ke Monas. Setelah bersabar menunggu antrian yang lumayan panjang akhirnya kamipun melawati gerbang dan masuk kedalam kawasan Monas.

Memasuki monas, sudah terlihat panggung didepan mata kami. Warga dan remaja memenuhi sekitaran panggung. Saat itu musisi legenda Iwan Fals membawakan lagunya. Iwan Fals jelas memancing perhatian warga.

keramaian sesaat memasuki gerbang Monas

Tak mau ikut berdesakan, kamipun mengurungkan niat untuk menikmati lagu yang dibawakan Iwan Fals saat itu. Kaki kami mengarah kebelakang panggung. melewati lapangan rumput yang mengelilingi tugu Monas. Banyak terlihat warga yang duduk beralaskan koran untuk beristirahat. Sayangnya, setelah beristirahat mereka meninggalkan bekas koran yang mereka duduki, teronggok menjadi sampah diatas rumput. Keluar dari lapangan rumput, kami kembali berjalan diatas jalan berbatu. Kekecewaan saya pun bertambah, terlihat banyak sekali sampah berserakan. Sepertinya bekas sampah makanan yang dibagikan gratis. Ini yang saya tidak suka dari warga negara kita tercinta ini, sulit untuk menghargai lingkungannya, apalagi itu adalah lingkungan Monas, tugu simbol dari negara kita tercinta ini.

Keramaian yang ditemani oleh sampah bekas makanan yang berserakan

Terpancing dengan sampah-sampah tersebut, kamipun berkeinginan untuk mendapatkan makanan gratis yang disediakan dalam pesta rakyat tersebut. Mata kamipun manangkap keramaian orang-orang yang mengelilingi sebuah gerobak. Sepertinya gerobak bakso, perut gw yang dari tadi menjerit karena tidak sarapan semakin menjadi jadi ketika menghayal mendapat semangkok bakso gratis. Langkahpun kami percepat untuk mengarah kegerobak tersebut. Sampai didepan gerobak, kami hanya bisa berdiam menikmati pemandangan yang luar biasa…. mencengangkan. Warga berebut seperti ingin merubuhkan gerobak tersebut. Sang tukang bakso tak lagi terlihat, tak tahu dilempar kemana oleh warga yang saling dorong-dorongan. Warga seenak hati mengambil sendiri baksonya, tak ada keinginan untuk antri menunggu giliran, inilah yang sangat saya sayangkan. Egois memikirkan dirinya sendiri. Lebih parahnya ada warga yang berencana untuk membawa pulang bakso tersebut sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan orang lain. Laparkan ku pun hilang melihat hal itu.

Kerumunan warga didepan grobak bakso yang disediakan secara gratis

Tukang bakso tak mampu menghapi warga yang tak mau antri

Perutku tak lagi keroncongan melihat susahnya mendapatkan makanan yang dibagikan. Kamipun melanjutkan berkeliling, sembari berharap ada gerobak makanan yang tidak seramai itu. Tapi harapan itu tak terkabul, semua gerobak bakso penuh dengan warga. Hanya gerobak-gerobak kosong yang telah habis makananannya yang tidak dikelilingi warga. Saat kami mencari itu, pandangan kami tertangkap oleh serakan sampah lagi. Kali ini lebih parah, sampah plastik bungkusan roti plus roti-rotinya berserakan ditengah-tengah aspal. Dari cerita warga yang sempat gw tanyain, ternyata roti tersebut terbuang-buang saat dibagikan dan warga berebutan. Sayang, kalo saja mau tertib tidak akan ada makanan yang tumpah dan terbuang menjadi sampah ditengah jalan. Sudah mubazir membuang makanan, makanan tersebutpun menjadi sampah yang tidak enak dipandang. Gw cuma bisa menghela napas melihat itu.

Sampah bungkus roti dan roti yang terbuang percuma ditengah jalan

Karena lapar, ditambah panas terik matahari yang menyelimuti Ibukota. Akhirnya kamipun memilih untuk beristirahat sejenak dibawah pohon. Sambil melihat-lihat sekeliling, rasa takjub akan partisipasi warga dalam meramaikan pesta rakyat ini bercampur dengan rasa sedikit kekecewaan. Revolusi mental yang digadang-gadang oleh presiden Jokowi sepertinya akan sulit dijalankan kalau saja semua rakyat meneruskan budaya jelek ini. Maka dari itu, hendaknya untuk menjadi bangsa yang maju, harus dimulai dari diri sendiri. Mari kita jaga lingkungan kita dan budayakan tertib dalam segala hal. Sekian aja cerita gw saat datang ke pesta rakyat pelantikan presiden 2014. Semoga presiden kita yang baru dapat membawa semangat baru untuk kepada rakyatnya untuk berubah ke arah yang lebih baik. Wasalam.

Comments

comments