Rekomendasi Album Band Pop Punk Terbaik!

Musik pop punk memang bukan sebuah genre yang aneh dan asing lagi sering dengan perkembangan jaman. Tempo musik yang cepat dengan raungan distorsi gitar ditambah dengan suara bass serta lirik yang seadanya, membuat musik ini sangat cocok bagi para remaja yang sedang mengalami proses pencarian jati diri. Tapi dari sekian banyak album band pop punk yang ada, sebenarnya album mana sih yang sangat worthed dan wajib banget kamu dengarkan? Nah, silabuzz mau kasih beberapa rekomendasi album band pop punk yang wajib kalian dengarkan.

Blink 182 – Enema of the State

Album ini rilis tahun 1998, jauh sebelum era Blink 182 mulai masuk ke dunia dark pop dengan banyak synth dan juga sampler macam sekarang ini. Album ini bisa dibilang sangat remaja dan penuh keriangan. Lagu-lagu di album ini sangat terdengar pop tanpa banyak distorsi berlebihan, tapi masih bisa kalian nikmati. Mungkin pada saat itu Mark, Tom dan Travis sedang dalam usia produktifnya sehingga album ini benar-benar terdengar segar. Lagu andalan di album ini diantaranya “All The Small Things”, “What’s My Age Again?” dan juga “Adam’s Song”.

Green Day – Dookie

Dookie merupakan album yang mengangkat nama Green Day di dunia musik internasional hingga mendapatkan nominasi Grammy di tahun 1994. Bukan sebuah hal yang aneh karena di album ini banyak lagu hits dari Green Day yang hari ini masih bisa kita dengarkan seperti “Basket Case”, “She”, “When I Come Around”, “Welcome to Paradise”, dan juga “Longview”. Lagu-lagu lain juga bisa kita nikmati walaupun dari segi sound masih terdengar sangat raw. 

NOFX – Punk In Drublic

Punk In Drublic bisa dibilang merupakan album milik NOFX yang paling laris hingga saat ini. Dirilis pada tahun 1994, album ini masih mengambil tema-tema seputar realita yang dialami oleh para personil band ini dengan distorsi yang cukup keras. Tetapi yang berbeda adalah aransemen dan juga penulisan lagu-lagu di album ini yang sudah semakin rapi secara komersial. Highlited track di album ini diantaranya “The Brews”, “Leave it Alone”, dan “Linoleum”.

MxPx – Before Everything and After

MxPx dikenal sebagai sebuah band yang cukup dikenal sebagai sebuah band punk rock yang menyuarakan kehidupan positif dengan lirik yang manis. Di album ini sebagian besar lagunya bertema tentang hubungan dan juga cinta. Walau begitu hentakan drum dengan tempo tinggi dan distorsi gitar yang kental masih bisa kita dengarkan. Sangat seimbang bagi remaja yang frustasi dengan kehidupan percintaan. Highllighted track di album ini diantaranya “Everything Sucks When You’re Gone”, “You Make Me, Me”, “On The Outs”.

New Found Glory – Radiosurgery

New Found Glory memang salah satu band yang sangat konsisten berada di genre pop punk hingga saat ini. Album Radiosurgery menurut merupakan salah satu album milik mereka yang wajib untuk didengarkan setiap tracknya. Dengan tema lagu yang berbeda-beda, di album ini mereka tidak terlalu banyak bereksperimen seperti album Catalyst dan lebih memilih untuk kembali ke roots mereka. Highlited track “Summer Fling, Don’t Mean A Thing”, “Caught in the Act”, “Drill it My Brain”.

Rufio – MCMLXXXV

Nama band Rufio memang sudah kurang terdengar saat ini, tetapi bila kamu mendengarkan album MCMLXXXV yang dirilis pada tahun 2003, kamu bakal tahu bahwa band ini sebenarnya cukup bagus. Perpaduan sound gitar yang berharmoni dengan ketukan drum cepat memang menjadi salah satu kekuatan dari band ini. Jadi, kalau kamu mencari album pop punk dengan sedikit sentuhan gitar ala-ala metal, album ini bisa jadi sebuah pilihan tepat.

Rocket Rockers – Ras Bebas

Album ini merupakan album major label pertama dan satu-satunya dari Rocket Rockers yang dirilis pada tahun 2004. Di album ini ada beberapa lagu baru dan juga lagu yang diremix ulang untuk versi album Ras Bebas. Buat kalian yang ingin mendengarkan musik pop punk dengan kearifan lokal yang masih enak untuk didengar, maka album ini bisa menjadi pilihan kalian untuk didengarkan,

Setuju sama list diatas? Share album pop punk favorit kalian di bagian komentar dong, buzzfriend!

Tiga Rapper Indonesia Yang Lebih Dari Young Lex

Samuel Alexander Pieter atau yang lebih dikenal sebagai Young Lex adalah seorang rapper yang saat ini naik daun. Terkenal di Youtube dengan lagu semacam GGS dan juga Bad yang berkolaborasi dengan selebgram Karin Novilda, Young Lex dikenal banyak orang terutama anak remaja yang baru mengenal dunia hip-hop. Selain sebagai rapper, Young Lex juga mempunyai usaha clothing yang diberi nama YOGS Store, yang merupakan singkatan dari Young, Original, Gila dan Swag. Tapi tahukah kalian selain Young Lex, Indonesia sebenarnya memiliki rapper yang lebih baik. Mau tahu siapa aja? Yuk, kitaa bahas.

1. Rich Chigga

Kemampuan Rich Chigga untuk live memang masih belum terlalu meyakinkan, tapi dari segi flow dan juga suara, kemampuan Rich Chigga sudah banyak diakui. Baru saja meluncurkan single kolaborasi dengan rapper luar negeri, rasanya Rich Chigga masih bisa banyak berkembang di masa depannya.

2. Dua Petaka Membawa Bencana

Grup hip-hop ini berasal dari skena Hip-Hop Yogyakarta yang membawa nuasa sound hip-hop oldskool dengan beat yang dinamis dan rima yang cukup catchy, yang membuat grup ini terdengar seperti bukan dari Indonesia. Kalian bisa dengar salah satu singe mereka yang berjudul Ndasmu di bawah ini.

3. Ucok Homicide 

Herry Sutresna aka Ucok adalah seorang MC yang sudah mulai menggeluti dunia hip hop di kota Bandung sejak awal era 90-an dan mendirikan grup hip hop Homicide. Ucok biasanya membuat rima dengan tema politik yang keras dan membuat para pendengarnya mengerutkan dahi. Bisa dibilang, Ucok lebih layak disebut sebagai orator daripada MC.

4. Iwa K

Terkenal di era90-an dengan hits-hitsnya yang pop seperti Bebas, Malam Ini Indah, Nombok Dong dan banyak lagi hits yang dibuat oleh Iwa K ini. Iwa K sendiri hingga saat ini masih menjadi ikon hip-hop di Indonesia dan menjadi artis rap dengan penjualan album tertinggi di Indonesia. Mau bernostalgia? Ini dia salah satu hits Iwa K dari era 90-an.

5. Saykoji

Mulai dikenal di pertengahan era 2000-an, Saykoji namanya mulai menanjak setelah salah satu lagunya masuk ke dalam jinggle sebuah iklan operator seluler di Indonesia. Selain nge-rap, Saykoji juga pernah ikut membintangi film 5cm dan juga mengerjakan berbagai proyek yang asih berkaitan dalam dunia hiburan Indonesia.

Well, kira-kira itulah lima rapper yang bisa kamu dengarkan selain Young Lex. Kalau kalian merasa judul dengan kontennya, ya memang karena memang lebih banyak rapper yang bagus dari Indonesia. Cobalah untuk eksplorelebih untuk musiknya dan komunitasnya karena hip hop pada awalnya adalah budaya pemberontakan, bukan hanya bahan jualan. Respect!

Dave Grohl, Musisi Penuh Talenta!

Bagi pecinta musik rock, nama Dave Grohl tentunya bukan sebuah nama yang asing. Dave Grohl merupakan drummer dari Nirvana yang merupakan salah satu band terbesar dalam sejarah music rock and roll. Dengan Kurt Cobain sebagai gitaris dan frontman, Krist novoselic sebagai bassis dan Dave Grohl pada drum, mereka menjadi salah satu grup band yang cukup mengguncangkan dunia pada awal decade 90-an. Dengan lagu hits macam “Smells like teen spirits” Lithium, Come As You Are, banyak fans merasakan bahwa band ini adalah juru bicara mereka yang mampu menangkap emosi dan keresahan mereka pada masa itu. Tetapi band ini tidak berumur panjang karena Cobain meninggal dunia pada tahun 1994 dengan berbagai spekulasi yang ada dan membuat band ini akhirnya bubar.

Nirvana from NME

Dave Grohl memutuskan untuk rehat sejenak dari dunia music dan kembali ke kampung halamannya. Setelah beristirahat selama delapan bulan, dia akhirnya kembali ke dunia musik dengan merekam ulang semua lagu yang sudah dia ciptakan selama beberapa tahun terakhir. Dia merekam semuanya seorang diri, mulai dari drum, gitar, dan bass karena proses rekaman yang dia lakukan ini menurutnya adalah sebuah ‘terapi’ untuk menghilangkan rasa sedih semenjak dia kehilangan Cobain. Rekaman yang dia buat diberi nama Foo Fighters sebagai nama samara agar orang-orang yang mendengar lagu-lagu tersebut tidak mengira bahwa itu adlaah sebuah one man project dari dirinya.

Selesai merekam album, Dave mencari beberapa personil lainnya untuk dia ajak bergabung dalam pryek terbarunya ini. Dia akhirnya bertemu dengan Nate Mendel dan William Goldsmith dari band yang baru bubar, Sunny Day Real Estate. Selain mengajak mereka berdua, dia juga mengajak gitaris Pat Smears yang juga sempat bergabung dengan Nirvana. Mereka berempat tampil membawakan lagu-agu dari Foo Fighters yang Dave ciptakan dan rekam seorang diri.

Karena alasan pribadi, William memilih untuk keluar dari Foo Fighters pada saat rekaman album kedua Foo Fighters dan digantikan oleh Taylor Hawkins. Selang beberapa waktu, Pat Smears memutuskan untuk keluar dari Foo Fighters dan digantikan oleh Franz Stahl yang merupakan gitaris dari band Dave Grohl, Scream. Formasi ini pun tidak bertahan lama karena pada saat proses rekaman album ketiga mereka, Franz Stahl dianggap kurang ‘nyetel’ dengan personil lainnya dalam proses penulisan lagu.

Foo Fighters pun akhirnya melepas album ketiga mereka, “There’s Nothing Left to Lose” sebagai trio yang beranggotakan Dave Grohl, Taylor Hawkins dan Nate Mendel. Tetapi karena merasa ada yang kurang dalam sound mereka, mereka memutuskan melakukan audisi terbuka untuk posisi gitaris dan akhirnya mereka setuju mengajak Chris Shiflett yang merupakan gitaris dari No Use For A Name dan Me First and the Gimmes Gimmes sebagai gitaris mereka. Posisi final ini merupakan formasi paling lama yang bertahan dalam band ini hingga akhirnya pada tahun 2010, Pat Smear kembali bergabung secara resmi dengan Foo Fighters.

Foo Fighters from theguadian.com

Musikalitas Dave Grohl yang memang sangat besar membuat dia memiliki banyak interest dalam bermusik bersama musisi lainnya. Dia sempat bergabung sebagai session drummer dalam band Queen of the Stone Age, Tenacious D dan berbagai  musisi lainnya. Dia juga membuat sebuah super band bersama John Paul Jones dari Led Zeppelin dan Josh Homme dari Queen of The Stone Age yang diberi nama Them Crooked Vultures dan menghasilkan sebuah album.

Keberhasilan Dave Grohl secara komersial dan juga seni diakui di dunia dibuktikan dengan keberhasilan Foo Fighters mendapatkan 11 Grammy Award dari 25 nominasi! Sebuah prestasi yang sangat besar bagia sebuah grup band tentunya. Tetapi prestasi tersebut tidak membuat dia merasa sombong atau besar kepala, menurutnya semua itu hanyalah sebuah hasil dari kecintaannya dari music Rock and Roll.

Kecintaannya terhadap music ini pula yang membuatnya membuat sebuah film documenter Sound City yang menceritakan sebuah studio rekaman bernama Sound City yang sudah bangkrut tetapi banyak menghasilkan banyak album-album hebat ketika masa keemasannya termasuk di dalamnya adalah album Nevermind dari Nirvana yang merupakan album pertama Dave bersama band tersebut.

Pribadi Dave yang rendah hati dan easy going menjadikannya sebagai kecintaan para fans dan juga musisi lainnya. Dia bahkan sekarang dekat dengan idolanya semasa kecil, Paul McCartney dan juga musisi-musis senior lainnya yang uga ikut tampil dalam film garapannya, Sound City. Dia juga sangat menghargai para fansnya dan sangat benci bila ada penonton yang merusak pertujukannya bahkan tak segan mengusir penonton tersebut. Tahun 2015, saat bermain di Jerman, Dave Grohl jatuh dari panggung dan membuat kakinya patah, but you know what, Foo Fighters tetap melanjutkan show mereka dan Dave tetap kembali ke panggung walaupun kakinya diperban!

Dave Grohl ingin menunjukkan bahwa dia adalah musisi, bukan rockstar. Bagi dirinya sebutan rockstar adalah sebuah ejekan. Seorang musisi menciptakan musik dari seluruh hatinya tentang apa yang dia rasakan melalui musik sebagai media utamanya. Dave juga menyatakan mbahwa baginya keluarga adalah segalanya tempat dia kembali ketika rasa lelah karena tour dan sebagainya serta menjadi pendukungnya ketika dia mengalami masa keterpurukan dan membuat dia jauh dari geapnya dunia rock and roll. Dengan semua prestasi dan karyanya yang luar, tentunya kita berharap mungkin Foo Fighters bisa main ke Indonesia dan mencicipi baso serta nasi goreng.

Review Filmage: The Story of Descendents / All

Buat para pecinta musik melodic punk atau pop punk nama band Descendents tentunya bukan sebuah nama asing lagi kan? Band Descendents bisa disebut sebagai pioner dari pop-punk atau melodic punk atau punk rock  (atau apapun sebutannya). Berbeda dengan band punk asal British yang biasa menyuarakan lagu-lagu dengan nuansa kemarahan dalam nuasan politik, ekonomi dan isu-isu berat lainnya, band-band melodik punk biasanya memainkan lagu dengan tema kemarahan dan kegelisahan dari kehidupan sehari-hari dan Descendent adalah salah satunya yang cukup genius pada masanya membuat lagu-lagu yang memuat tema tersebut.

Contohnya adalah adalah lagu Parents yang bercerita tentang kemarahan seorang anak kepada orang tuanya atau juga lagu Food yang menceritakan tentang makanan.Teman lagu yang diangkat adalah benar-benar tema kehidupan sehar-hari yang dekat dengan kehidupan mereka dan inilah yang menjadi kekuatan dari the Descendent sendiri.

Filmage: The Story of Descendents / All adalahs ebuah film dokumenter yang menceritakan perjalanan dari band ini dari awala terbentuk hingga akhirnya mereka mulai menua dan kembali ke dunia musik untuk bertemu para fansnya. Gaya penceritaan dan narasi yang dilakukan cukup menarik karena setiap bagian band ini dibagi menjadi fragmen-fragmen khusus agar penonton mengerti sejarah Descendent.

The Descendent dibentuk pada tahun 1977 yang beranggotakan Frank Navetta pada gitar, Mark Lombardo pada bass dan Bill Stevenson pada drum. Mereka muncul pertama kali dengan konsep musik band surf-pop-rock dan setelah terjadi beberapa kali perombakan pada anggotanya hingga akhirnya pada tahun 1980 Milo Aunkerman masuk sebagai vokalis dan menghasilkan satu album ikonik dari band ini yaitu “Milo Goes To College”.

Album ini sebenarnya adalah sebuah hadiah bagi Milo yang akan meninggalkan band Descendents karena dia akan melanjutkan pendidikannya (dan sekarang dia adalah seorang Ph.D di bidang biochemistry). Saat ini Album Milo Goes To College menjadi album yang paling digemari oleh para fans dan menjadi sebuah koleksi bagi para pecinta band ini.

Selepas mengeluarkan album “Milo Goes to College” Descendent mengeluarkan beebrapa album dan sering terjadi perubahan anggota hingga akhirnya band ini  vakum dan berganti nama menjadi All sebagai sebuah konsep musik yang berasal dari album mereka yang dirilis tahun 1987 dan Milo pun benar-benar meninggalkan Descendent untuk mengerjar karir diluar jalur musik.

Film ini menunjukkan secara jelas bagaimana band ini bertransformasi setiap saatnya dan selalu berusaha untuk bertahan dalam industri musik Amerika yang sangat dinamis dan juga jahat. Bill Stevenson menjadi anggota asli yang terus bertahan sejak Descendent berdiri hingga saat berubah nama menjadi All dan kembali lagi menjadi Descendent. Masa naik turun sebagai sebuah grup band dengan banyak tur dan hingga akhirnya sama sekali tidak ada lagi yang tersisa untuk bandnya sudah dirasakan oleh Bill Stevenson melalui Descendent dan All.

Film ini didukung oleh banyak musisi seperti Dave Grohl, Fat Mike, Mark Hoppus, Mike Herrera dan juga banyak musisi lainnya yang berakar pada musik punk rock. Selain itu, film ini juga menghadirkan seluruh mantan anggota dari band Descendent.

Film Filmage: The Story of Descendents/All adalah sebuah film yang wajib ditonton bila kamu adalah seorang pecinta musik pop punk/melodic punk atau siapapun yang menyukai musik. Enjoy the trailer!

Lima Gitar Legendaris yang mendunia!

Bagi sebagian gitaris, gitar mereka lebih daripada sekedar alat musik. Gitar mereka adalah identitas mereka dan kadang menjadi teman hidup sepanjang karir mereka. Silabuzz merangkum beberapa gitar yang legendaris dan dikenal di seluruh dunia.

  1. Lucille – BB King

Bagi para pecinta manga Beck, gitar Lucille tentunya sudah tidak asing lagi karena menjadi bagian utama dari cerita untuk manga tersebut. Gitar Lucille ini memang ada tapi cerita aslinya berbeda dengan cerita dari manga tersebut. Bila dalam manga tersebut dijelaskan bahwa gitar Lucille adalah gitar Les Paul Gibson dengan beberapa lubang tembakan, sementara gitar Lucille yang asli bertipe Gibson ES-355 tanpa lubang F berwarna hitam.

from bbking-fan.ru

BB King dengan gitar Luciller

Gitar Lucille ini adalah gitar yang dimiliki oleh BB King dan diberi nama Lucille setelah sebuah insiden kebakaran yang terjadi saat BB King sedang manggung di sebuah bar. BB King yang waktu itu berhasil menyelamatkan diri, harus kembali ke dalam bar yang terbakar karena teringat gitarnya yang masih tertinggal di dalam. Esok harinya dia baru tahu ternyata penyebab kebakaran tersebut karena perkelahian dua orang pria memperebutkan seorang wanita bernama Lucille dan setelah itu BB King menciptakan sebuah lagu yang diberi judul Lucille yang menceritakan bagaimana gitar tersebut akhirnya memiliki nama

  1. Blackie – Eric Clapton

Blackie adalah sebuah gitar Fender Stratocaster yang dibuat oleh Eric Clapton dengan menggabungkan tiga gitar Fender Stratocaster yang dia beli dari sebuah toko alat musik bekas. Eric Clapton membeli enam buah gitar pada toko tersebut, setelah memberikan tiga gitar pada Pete Townshed, George Harrison dan Steve Winwood, dia mempreteli tiga sisa Fender yang dia beli dan memilih bagian yang terbaik untuk kemudian dia gabungkan menjadi satu gitar Fender Stratocaster yang diberi nama Blackie.

from bloomberg.com

Eric Clapton dengan Blackie

Blackie menjadi gitar utama Eric Clapton hingga tahun 1985 karena Blackie memiliki masalah pada bagian neck-nya sehingga harus “dipensiunkan” dan akhirnya Fender menciptakan sebuah gitar Custom untuk Eric Clapton dengan spesifikasi yang sama dengan Blackie. Blackie akhirnya dilelang pada tahun 2005 untuk bantuan korban tsunami di Asia dengan harga US$959,500 yang membuat gitar ini sebagai salah satu gitar legendaris termahal,

  1. Frankenstrat – Eddie Van Hallen

Frankenstrat adalah sebuah gitar legendaris yang diciptakan oleh Eddie Van Halen dengan menggabungkan bermacam bagian dari Fender dan Gibson. Untuk body gitar, Van Halen menggunakan body dan neck dari Fender Stratocaster digabungkan dengan pick up humbucker dari Gibson.

from weissguitargallery.com

Eddie Van Halen dengan Frankenstrat

Dengan gitar ini, Eddie Van Halen ingin menggabungkan antara sound dari gitar Gibson dengan bentuk artistic dari gitar Fender. Gitar ini menjadi saah satu gitar yang terkenal di dunia dan menadi trademark dari Van Hallen. Gitar ini sudah dibuat replikanya oleh berbagai pabrikan gitar seperti Kramer, Ibanez, Charvel dan brand gitar Eddie Van Halen, EVH.

  1. Lucy – George Harrison

Lucy adalah gitar Les Paul Gibson yang dimiliki oleh gitaris The Beatles, George Harrison. Gitar ini adalah gitar pemberian Eric Clapton kepada Harrison tahun 1968. Sebelum dibeli oleh Clapton,gitar ini dimiliki oleh Rick Diringer yang mendapatkan gitar ini dari John Sebastian dari Lovin’ Spoonful. Gitar ini aslinya berwarna emas, tetapi kemudian diganti oleh Diringer dengan finishing warna merah menyala, tetapi karena kurang puas dengan hasil akhirnya dia menjual gitar ini ke toko alat music Dan Armstrong di New York.

http://www.kaskus.co.id/thread/5162494f0b75b45d5d00000a/gitar-legendaris-milik-musisi-terkenal-di-dunia

George Harrison dengan Lucy

Gitar ini digunakan oleh George Harrison dalam beberapa lagu The Beatles seperti While my guitar gently weeps dan juga bisa dilihat dalam video klip berjudul Revolution. Gitar ini ssempat hilang karena dicuri dari rumah Harrison tetapi bisa didapatkan kembali oleh Harrsion dengan menukarnya dengan sebuah gitar Fender dan Fender Precision Bass kepada pemilik baru Lucy. Gitar legenaris ini tetap menjadi milik George Harrison dan menjadi benda kesayangannya hingga akhir hayatnya.

  1. Number One – Stevie Ray Vaughan

Sebagai salah satu bluesman yang tenar di tahun 80-an, SRV menggunakan berbagai jenis macam gitar tetapi gitar Fender Stratocaster ini tetap menjadi pilihan utamanya dalam bermusik. Salah satu keunikan dari gitar legendaris ini adalah tahun produksi untuk setiap part dari gitar in dibuat dalam tahun yang berbeda. Body gitar ini dibuat tahun 1963 sedangkan untuk neck gitar dibuat tahun 1962, tetapi dibagian belakang pick up tercatat dibuat tahun 1959.

SRV dengan Number One

Sempat beberapa kali akan dipensiunkan karena neck gitar yang sudah beberapa kali rusak, tetapi SRV tetap menggunakan gitar ini karena gitar ini memiliki sound yang unik dan khas dan tak bisa digantikan oleh gitar lainnya. Gitar ini dia dapatkan dari Ray Henning’s Heart of Texas music shop dan menjadi gitar andalan dalam semua album SRV. Sepeninggal SRV, gitar ini dimiliki oleh Jimmie Vaughan, saudara kandung SRV, dan Fender juga telah membuat signature model untuk gitar Number One ini.