Apa Faedahnya Gojek dan Traveloka Jadi Sponsor di Liga 1 Indonesia?

Ada yang menarik dari Liga 1 Indonesia tahun ini bagi saya karena tahun ini untuk pertama kalinya sponsor utama dari event olahraga terbesar di Indonesia ini adalah dua perusahaan startup unicorn asal Indonesia! Seperti yang kita tahu biasanya yang terlibat dalam kegiatan olahraga di sponsori oleh produsen rokok sampai ada jargon, “Tanpa rokok, olahraga Indonesia tidak ada,” tapi pada tahun 2017 ini perusahaan startup lah yang mengambil alih sebagai sponsor utama dari Liga 1 yang diberi nama Gojek Traveloka Liga 1 Indonesia ini.

Kemudian saya berpikir apa untungnya dua startup ini ikut-ikutan dalam event ini? Dilihat dari segi bisnis sangatlah jauh antara layanan gojek dengan sepakbola. Sama sekali tidak ada layanan gojek yang terintegrasi dengan kegiatan olah raga. Hal ini pun berlaku bagi Traveloka yang notabene layanan utamanya adalah untuk booking tiket dan hotel untuk traveling, rasanya sangat jauh dengan sepakbola.

Perusahaan Startup Atau Teknologi Sebelum Liga 1

Sebelum Gojek dan Traveloka ambil bagian menjadi sponsor utama dari Liga 1, sebenarnya ada perusahaan ecommerce yang ikut serta dalam kancah sepakbola Indonesia sebagai sponsor utama yaitu jd.id. Perusahaan ecommerce ini menjadi sponsor klub sepak bola Madura United dengan biaya sebesar Rp. 4 miliar.

 Jd,id sendiri menjadi ecommerce yang membantu penjualan jersey dan merchandise dari Madura United. Selain jd,id, Indosat Ooredo juga menjadi sponsor bagi beberapa klub yang berlaga di kasta tertinggi liga sepakbola Indonesia ini.

Liga 1

jd.id sponsor Madura United/ Sumber : jd.id

Apa Faedahnya Bagi Gojek dan Traveloka?

Jumlah uang yang dikeluarkan oleh dua startup unicorn inipun tidak sedikit, angkanya mencapai Rp. 180 miliar! Rasanya cukup untuk meningkatkan performa layanan dan pengembangan produk bagi kedua startup ini rasanya.

Let’s say, kedua startup ini akhirnya membuka layanan pembelian tiket melalui aplikasi yang mereka miliki, apakah para penonton Liga 1 Indonesia nantinya akan langsung menggunakan fitur tersebut? Sudah dikembangkan kah? Apakah mampu meredam ‘bisnis percaloan tiket’? Well, banyak sebenarnya yang bisa ditanyakan bila menjurus ke arah tersebut.

Tetapi bila bisa ditilik disini, keuntungan yang paling nyata adalah meningkatnya brand image dari kedua startup ini di Indonesia. Sepak bola di Indonesia merupakan sebuah hiburan alternatif yang sangat-sangat-sangat murah dan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat di Indonesia. Terutama untuk penonton kelas B kebawah, yang notabene merupakan grass root yang biasanya sangat loyal dan fanatik terhadap klub yang mereka favoritkan.

Liga 1

Bobotoh Persib Yang Selalu Memenuhi Stadion/ Sumber: bobotoh.web.id

Hampir setiap akhir pekan, stasiun televisi di Indonesia yang menjadi partner dengan Liga 1 akan menghadirkan pertandingan-pertandingan klub-klub besar di Indonesia dan ditonton di seluruh wilayah Indonesia tanpa terkecuali. Biaya sebesar 180 miliar untuk 6 pertandingan setiap akhir pekan selama 9 bulan adalah sebuah harga yang cukup masuk akal.

Dengan masuknya Gojek dan Traveloka ke Liga 1 akan membuat brand mereka semakin dikenal oleh para fans sepakbola Indonesia, terutama di masyarakat penontonnya tadi. Hal ini akan lebih mudah bagi mereka untuk melakukan penetrasi pasar kepada kalangan tersebut.

Untuk jenis layanan yang bisa dikembangkan pun sebenarnya masih bisa dilakukan lebih banyak selain dari pemesanan tiket pertandingan. Rasanya tidak akan sulit bagi Gojek dan Traveloka untuk mencari peluang keuntungan bisnis dengan market sepakbola yang sangat besar ini.

Pertanyaan selanjutnya, apakah Gojek Traveloka Liga 1 ini akan berjalan lancar dan tidak mendapatkan cobaan seperti Liga tahun sebelumnya? Kita berdoa saja semoga sepakbola Indonesia bisa kembali jaya dan menjadi juara kembali di ASEAN. Stay Awesome, buzzfriend!

PS : I heard there is some connection between this investor to that investor so this can be that and etc, but I don’t want to spread the gossip, though.

Bagaimana Nasib Startup Teknologi Sebagai Bagian Dari Ekonomi Digital Indonesia?

Jika berbicara tentang startup teknologi di Indonesia, tentunya kita ingat startup Teknologi di Indonesia sempat mengalami masa-masa booming di periode tahun 2013 -2014. Startup-startup lokal asal Indonesia mulai dikenal oleh masyarakat secara luas, walaupun belum mendapat tempat secara signifikan. Sebut saja beberapa sstartup besar seperti Go-jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka yang menjadi perusahaan startup yang mendapat funding yang cukup besar dari berbagai venture company baik dari luar negeri ataupun dalam negeri dan akhirnya banyak mendapat pengguna di masa itu.

Tetapi pada masa-masa selanjutnya, startup di Indonesia seolah-olah mati langkah dan mulai berguguran satu per satu. Bahkan tahun 2015-2016, banyak startup yang kemudian harus menutup layanan mereka karena tidak mendapatkan pengguna yang signifikan sementara pendanaan sudah habis.

startup teknologi

Daftar startup yang tutup tahun 2015-2016. Sumber : katadata.co.id

Infografik diatas tentu saja angkanya lebih sedikit dibandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi di lapangan. Bahkan data statistik pada masa tersebut menunjukkan sebenarnya pada masa tersebut investasi untuk startup Indonesia sebenarnya malah meningkat.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi?

Ada beberapa faktor yang mungkin terjadi di sini sehingga banyak startup yang akhirnya harus tutup. Beberapa faktor yang mungkin terjadi yaitu :

Pendanaan yang tidak merata

Memang benar pendanaan pada masa tersebut sangat naik, tetapi tidak semua startup mendapatan kesemapatan untuk merasakan kucuran dana tersebut. Startup-startup yang tutup tersebut biasanya berada pada masa seed funding dan tidak mendapatkan series pendanaan selanjutnya.

Hal ini sangat mungkin terjadi karena investor tentu akan lebih memilih startup yang mampu mengembalikan modal mereka lebih cepat. Berinvestasi kepada startup yang belum memiliki model bisnis dan pangsa pasar yang belum jelas merupaka sebuah perjudian bagi investor dan yang pasti mereka tidak ingin rugi.

Kemungkinan pendaan tersebut jatuh kepada startup yang sudah memiliki brand dan pengguna besar, atau ke startup yang lebih baru dengan produk yang lebih baik.

Tidak Ada model Bisnis Yang Jelas

Ini kemungkinan kedua yang bisa terjadi kepada startup teknologi di Indonesia karena tidak sedikit startup yang hanya mampu membuat produk, layanan atau aplikasi tapi mereka sendiri bingung bagaimana cara menentukan monetasi untuk produk yang mereka hasilkan tersebut.

Bisa saja produk tersebut sangat keren dan memudahkan penggunanya, tetapi yang menjadi pertanyaan apakah akan ada pasar yang bersedia untuk membayar produk tersebut? Jika ya, seberapa besar? Apakah sudah ada produk sejenis? Bagaimana tingkat kompetisinya?  Serta berbagai macam hal lainnya yang mungkin tidak mereka sadari pada saat awal mendirikan startup tersebut.

Masalah Internal

Masalah internal dari founder biasnaya merupakan salah satu penyebab bubarnya sebuah startup. Selain masalah internal, hubungan startup dengan investor kadang menjadi sebuah duri dalam daging. Tabrakan antar kepentingan memang tidak bisa dihindari dan terkadang menutup layanan adalah jalan yang terbaik.

Tidak Ada Pengguna

Inilah yang menjadi salah satu bencana utama bagi para founder startup di Indonesia. Secara model bisnis sudah bagus, hubungan dengan investor baik, uang masih cukup untuk dibakar, produk sudah keren tetapi tidak pengguna yang tertarik untuk menggunakan layanan atau aplikasi yang mereka ciptakan.

Akhirnya bakar uang dengan promosi berbagai cara, tetapi tetap saja pengguna tidak tumbuh secara signifikan. Well, hal ini mungkin terjadi karena layanan atau produk tersebut memang tidak bermanfaat bagi penggunanya. Secara bahasa sekarang, tidak ada faedahnya.

Harus disadari bahwa minat seseorang mengadopsi atau menggunakan sebuah teknologi menurut Technology  Adoption Model dipengaruhi karena dua hal utama yaitu manfaat yang dirasakan dan kemudahan dalam penggunaannya. Bila kedua faktor tersebut sudah dipenuhi maka pengguna akan tertarik untuk menggunakannya.

Lalu, Bagaimana Nasib Startup Teknologi Di Indonesia Di Mendatang?

Seperti yang kita ketahui, Pemerintah Indonesia saat ini sedang membuat sebuah program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital. Apa itu Gerakan Nasional 1000 Startup Digital? Diambil dari lamannya, penjelasan dari gerakan ini mempunyai tujuan  mewujudkan potensi Indonesia menjadi The Digital Energy of Asia di tahun 2020 dengan mencetak 1000 startup yang menjadi solusi atas berbagai masalah dengan memanfaatkan teknologi digital.

Tujuan terbesar dari gerakan ini memajukan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia dengan cara membina para pemuda Indonesia agar mampu membuat startup digital yang menyelesaikan masalah bangsa dan mampu bertahan hingga nantinya menjadi sebuah perusahaan yang sustainable. Nah, keren kan?

Kegiatan ini diadakan di 10 besar di Indonesia melalui proses seleksi dan penyaringan dari para praktisi yang sudah berada di bidang startup teknologi di Indonesia. Nantinya startup dari setiap daerah akan diseleksi, kemudian dilakukan mentoring dan inkubasi untuk menjadi startup yang mampu menyelesaikan banyak permasalahan di daerahnya.  Untuk info lebih lanjut bisa kunjungi halamannya di sini.

Masih belum pasti sejauh apa bantuan Pemerintah nantinya di masa depan, apakah setelah setelah proses inkubasi para startup tersebut akan dibiarkan begitu saja untuk berkembang sendiri atau akan ada pengarahan lagi untuk mendapat funding sehingga mereka benar-benar bisa berjalan. Entahlah.

Tetapi di sini kita bisa melihat bahwa pemerintah sudah mulai melirik start up sebagai sebuah bagian penting dari ekonomi digital di Indonesia. Sampai membuat program yang cukup fantastis seperti ini. Pemerintah juga mengakui bahwa startup merupakan sebuah potensi penting yang akan sangat sayang bisa seluruhnya akhirnya hanya dimiliki oleh investor dari luar negeri.

Selain itu, bila melihat statistik Indonesia dari segi pengguna teknologi smartphone dan internet, Indonesia masih merupakan sebuah pasar yang cukup besar untuk ditaklukan. Dikutip dari katadata.com, sebuah survei yang dilakukan CLSA pada 2015 menunjukkan lebih dari 90% pengguna smartphone memerlukan waktu tidak kurang dari 2 jam per hari dalam menggunakan perangkat ponsel pintar. Bahkan, 32,5 persen pengguna smartphone ini membutuhkan lebih dari 8 jam untuk mengakses ponselnya.

Bayangkan seperti itulah pengguna smartphone di Indonesia menghabiskan waktunya!

Grafik: 33% Pengguna Akses Ponsel Pintar lebih dari 8 Jam/Hari
33% Pengguna Akses Ponsel Pintar lebih dari 8 Jam/Hari

Dengan jumlah pengguna smartphone lebih dari 90 juta pengguna dan transaksi ecommerce yang dipredikis akan mencapai angka $130 Miliar pada tahun 2020, sebenarnya startup teknologi di Indonesia masih punya kesempatan untuk terus berkembang. Tinggal masalahnya adalah bagaimana mampu mengkonversi peluang-peluang tersebut menjadi sebuah layanan atau produk yang mampu bermanfaat bagi masyarakat agar bisa digunakan.

Nah, buat buzzfriend yang merasa mempunyai ide atau niat untuk membuatatau mempunyai sebuah startup, tidak perlu khawatir dengan masa depan startup di Indonesia karena peluang masih terbuka banyak. Tinggal siapkan pikiran, modal dan yang paling mental untuk tidak menyerah dalam membuatnya. Stay awesome, buzzfriend!

Hati-Hati Penipuan SMS Banking/ Internet Banking Bank Mandiri !

Jadi, pada Jum’at tengah malam saya mendapat sebuah sms, saya memang sengaja tidak membuka sms tersebut karena siapa pula yang mau sms saya tengah malam? Besok paginya saya buka ternyata isi sms itu dari 3355 dan memberikan sebuah kode OTP dari Bank Mandiri.

Kode ini biasanya digunakan saat kita menggunakan layanan transaksi online sebagai verifikasi bagi pemiliki rekening tersebut bahwa pemilik rekening tersebut memang melakukan transaksi tersebut. Saya cukup kaget karena saya tidak melakukan transaksi online apapun, terlebih lagi pin atau kode SMS Banking dan Internet Banking saya sudah saya lupa. Bagaimana caranya saya menggunakan dua layanan tersebut?

Saya ingat kalau malam sebelumnya saya menggunakan ATM di SPBU daerah Wastukencana. Apa di sana ada alat skimmingnya ya? (Baca : Alat Skimming di ATM) Padahal saya sudah mengecek sebelum menggunakan ATM tersebut. Sebenarnya memang cukup rawan menggunakan ATM di wilayah yang terbuka seperti SPBU, ATM Gallery di Minimarket dan juga ATM yang sifatnya tidak terawasi. Jadi, bila kalian mau melakukan transaksi di sana sebaiknya sangat-sangat-sangat berhati-hati. Silahkan cek video di bawah ini untuk mengetahui bagaimana alat skimming di ATM.

Selanjutnya saya langsung berangkat ke kampus dan menuju ATM terdekat dan untuk mengganti nomor PIN saya karena saya khawatir kenapa-kenapa. Nah, sekitar jam 12.30 saya mendapat telepon dari nomor 0811129122, saya tahu itu nomor yang biasa digunakan oleh marketing kartu kredit bank, dan benar saja setelah saya angkat dia mengaku dari Bank Mandiri Pusat dan meminta nomor OTP yang saya terima tadi malam dengan alasan untuk menonaktifkan layanan SMS Banking dan Internet Banking karena saya sudah lama tidak menggunakannya.

Pertama saya cukup percaya dengan ucapannya itu, tapi saya ingat ini kan hari Sabtu? Bagaimana mungkin di hari Sabtu seperti ini ada proses yang bisa dilakukan di hari kerja? Kenapa harus mengganggu nasabah di hari libur operasional? Kemudian saya meminta tidak melanjutkan proses dengan alasan tersebut dan saya memang kurang percaya bila tidak ada pemberitahuan secara langsung melalui surat dan sebagainya. Hanya melakukan pemberitahuan hanya melalui telepon rasanya terlalu beresiko bagi saya. Dan orang itu tetap meminta kode OTP agar prosesnya bisa dilakukan dengan nada yang cukup meninggi bahkan terdengar memaksa.

Penipuan Bank Mandiri via Telepon

Salah Satu Alat Skimming ATM via iputan6.com

Kemudian saya jelaskan saya tidak bisa melakukannya sebelum saya konfirmasi ke call center Bank Mandiri di 14000, bahwa kegiatan ini memang benar-benar mereka lakukan. Dia kemudian mempersilahkan saya untuk melakukan tersebut tetapi kemudian meminta masa berlaku dari kartu saya. Lha, buat apa ya? Emangnya saya mau belanja online?

“Kartu saya sampai tahun 2020, Pak,” jelas saya. Padahal bukan.

“Tanggal berapa?” Dia meminta tanggal dari kartu saya.

“Tanggal apaan, Pak? Ini cuman ada bulan sama tahun!”

“Itu ada berapa angka? Dua atau Empat?!” tanyanya lagi, dengan nada meninggi. Si Kampret, kalo elo dari bank elu harusnya tahu ada berapa angkanya!

Saya langsung tutup percakapan itu, dan tak lama kemudian nomor 0811-129-122 kembali menelpon tapi saya tidak angkat. Selanjutnya ada juga nomor yang menelpon 0831-7890-0141 yang saya yakin juga merupakan bagian komplotan yang sama. Saya cepat-cepat ke ATM dan mengecek saldo dan transfer sebagian ke rekening saya di bank lain, menuju rumah dan menelpon 14000 untuk konfirmasi dan ternyata kegiatan itu sama sekali tidak ada. Fuuuih! Nah, penjelasan di bawah ini rasanya cukup jelas kan?

Saya sebenarnya masih bingung dan ingin tahu sebenarnya mereka dapat data saya dari mana ya? Apa saya kena jebakan skimming? Harusnya mereka bisa langsung bobol atm saya, tanpa minta OTP. Tapi… Ya sudahlah, berarti saya harus semakin berhati-hati.

Nah, untuk kalian yang membaca ini ada beberapa hal yang harus  kalian baca di sini agar bisa terhindar dari penipuan yang mengatasnamakan Bank manapun untuk proses apapun. Kalau ada yang dirasa janggal sebaiknya jangan lakukan. Bila diminta memberika kode OTP, Nomor PIN, Nomor Kartu, Masa Berlaku Kartu dan sebagainya jangan pernah berikan karena pada dasarnya pegawai bank tidak boleh mengetahui hal tersebut.

Sebisa mungkin mengganti nomor  PIN ATM secara berkala dan bila memiliki banyak ATM jangan sampai menggunakan PIN yang sama. Ingat! Waspadalah! Waspadalah! Jangan sampai menyesal ketika menjadi korban.

Untuk melihat modus penipuan lainnya kallian bisa cek di situs gagoda.com karena di situs ini cukup memberikan banyak cerita dan pengalaman bagi orang-orang yang hampir menjadi korban penipuan seperti yang nyaris saya alami. Stay awesome, buzzfriend! Keep Alert!

Bagaimana Perkembangan Bisnis Startup Teknologi Indonesia Saat Ini?

Periode tahun 2014-2015 merupakan era ‘Startup’ menjadi seperti sebuah trend, dimana hampir setiap bulan kita dapat menemukan berbagai perusahaan startup teknologi Indonesia yang baru muncul untukmenawarkan berbagai macam layanan bagi para pengguna teknologi dan internet. Perusahaan-perusahaan startup tersebut hadir dengan ide yang brilian dan luar biasa dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di masyarakat dengan menggunakan  teknologi. Berbagai macam start up dengan berbagai macam aplikasi yang bisa kita akses dengan mudah di smartphone kita atau melalui laptop yang biasa kita gunakan sehari-hari.

Pada masa tersebut, bisa juga kita temukan pendanaan dari berbagai Venture Company baik dari dalam negeri dan luar negeri masuk dengan mudahnya ke perusahaan-perusahaan start up tersebut. Pendanaan diberikan kepada perusahaan Start up dari yang bernilai ratusan ribu hingga jutaan dolar yang langsung mendongkrak citra perusahaan dan para foundernya. Titel bergengsi macam Chief Executive Officer, Chief Technology Officer, Chief Marketing Officer dan sebagainya bisa kita temukan dengan mudahnya dalam jejaring sosial professional LinkedIn sebagai bentuk eksistensinya.

Tapi seperti demam trend lainnya, perlahan-lahan di tahun 2016, perusahaan-perusahaan startup teknologi tersebut berjatuhan satu per satu dengan berbagai alasan mulai dari kehabisan modal, tidak memiliki banyak pengguna bahkan mungkin mereka tidak tahu sebenarnya apa tujuan mereka kemudian mereka menutupnya. Apakah dunia startup di Indonesia hanya sebuah halusinasi saja? Apa yang sebenarnya terjadi?

Startup Teknologi Indonesia Yang Tumbang di tahun 2016

Beberapa media sempat membahas beberapa start up yang akhirnya harus menutup layanan mereka di tahun 2016. Berikut ini adalah beberapa start up yang harus menutup layanan mereka berdasarkan data yang dirangkum oleh Katadata.com

Datapada Infografik tersebut hanya menggambarkan sebagian kecil dari startup yang akhirnya harus tutup layanan di tahun 2016 kemarin. Angka tersebut sebenarnya masih terlalu kecil mengingat pertumbuhan startup di tahun 2014-2015 benar-benar sangat pesat dengan  pendanaan triliunan rupiah dari investor dalam negeri dan luar negeri.

Kondisi Startup Teknologi Indonesia Saat Ini

Untuk menggambarkan situasi start up di Indonesia saat ini, istilah seleksi alam merupakan penjelasan singkat yang sangat jelas mengapa banyak perusahaan start up yang tumbuh pada medio 2014-2015 pada akhirnya jatuh bertumbangan. Apa yang terjadi di Indonesia pada dasarnya merupakan sebuah seleksi alam yang biasa terjadi pada dunia bisnis di belahan bumi manapun.

Ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan selera pasar di Indonesia, pendanaan yang sangat ketat serta belum mampunya perusahaan start up untuk membiayai operasional perusahaan menjadi banyak penyebab sebuah start up akhirnya harus mengakhiri layanannya.

Saat ini start up di Indonesia menyisakan nama-nama besar seperti Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, Tiket, Go-Jek, grab, Uber dan sebagainya, sebagai pemain besar dalam dunia start up teknologi di Indonesia. Hal tersebut sangat dimungkinkan dengan pendanaan yang terus mereka dapatkan dari berbagai investor baik dari dalam dan luar negeri. Selain itu, kemampuan mereka dalam menghasilkan revenue juga sudah mulai terlihat walaupun belum siginfikan, setidaknya mereka sudah dapat mengelola dan mengembangkan bisnis mereka secara perlahan.

Sebuah catatan yang harus diingat juga bahwa hasil yang mereka raih saat ini juga bukan melalui sebuah perjuangan mudah. Sudah beberapa kali terjadi penolakan terhadap bisnis pemesanan transportasi online yang dijalankan oleh Go-Jek, Uber, dan Grab di beberapa kota besar ditambah dengan regulasi pemerintah yang juga semakin mempersulit mereka untuk berkembang.

Untuk pendanaan dari investasi sendiri, sebenarnya Indonesia menempati posisi ke-2 dalam investasi start up di Indonesia pada tahun 2016 menurut katadata.com

Grafik: Investasi Startup Indonesia Peringkat Kedua di ASEAN
Investasi Startup Indonesia Peringkat Kedua di ASEAN

Tetapi tetap saja, banyaknya pendanaan yang masuk sama sekali tidak menjamin bagi perusahaan startup teknologi Indonesia untuk tetap bisa bertahan lama. Lalu dimanakah yang menjadi masalahnya?

Founder, Produk, Model Bisnis, Investor dan Pengguna

Founder, Produk, Model Bisnis, Investor dan Pengguna adalah lima hal yang biasanya menjadi permasalahan dalam membangun sebuah perusahaan startup yang stabil dan dapat bertahan dengan jangka waktu yang cukup lama. Kelima faktor tersebut biasanya merupakan permasalahan yang umum dihadapi oleh sebuah perusahaan startup teknologi Indonesia.

Founder dari sebuah perusahaan startup teknologi memegang peranan penting selain sebagai pendiri biasanya juga menjadi orang yang memiliki visi dan misi bagaimana perusahaan mereka akan berjalan nantinya. Masalah utama yang timbul adalah para founder dari startup ini pada akhirnya akan menemukan jalan mereka masing-masing saat mengelola sebuah perusahaan sehingga akan menimbulkan friksi internal. Hampir semua perusahaan startup pasti mengalami hal tersebut baik itu dalam skala kecil ataupun besar. Contoh yang bisa kita ambil adalah di perusahaan Apple antara Steve Wozniack dan juga Steve Jobs, atau antara Eduardo Saverin dan Mark Zuckerberg dari Facebook.

Kesalahan dalam mengelola produk juga menjadi salah satu faktor penting dalam sebuah perusahaan startup teknologi. Berapa banyak perusahaan startup yang awalnya sangat dikenal dan berjaya tetapi akhirnya harus menutup layanannya karena tidak mampu mengembangkan produknya atau produk tersebut kalah bersaing dengan kompetitor? Contoh paling nyata adalah yang terjadi dengan Vine yang akhirnya harus mengakhiri layanannya karena tidak mampu bersaing dengan layanan live video macam Instagram atau Snapchat.

Kesalahan dalam model bisnis merupakan kesalahan yang cukup fatal dimana founder sudah menemukan bagaimana membuat sebuah produk tapi mereka sama sekali tidak memperhatikan bagaiman produk tersebut dapat menjadi berguna dan dapat ‘dijual’ kepada pengguna. Mereka sibuk membuat produk yang ‘keren’ tetapi lupa bagaimana cara membuat orang mau membayar akan layanan mereka. Hal ini adalah hal yang paling umum kita temukan dalam startup teknologi Indonesia.

Investor juga bisa menjadi penyebab gagalnya sebuah startup untuk berkembang, hal ini disebabkan oleh orientasi yang masih salah dalam memandang sebuah startup di Indonesia. Pada dasarnya, sebuah Venture Company memberikan dana investasi adalah untuk meningkatkan nilai uang mereka dalam perusahaan tersebut. Tentunya hal tersebut baru bisa diperoleh ketika  perusahaan tersebut sudah memilliki revenue agar mampu mengembalikan uang tersebut. Yang menjadi masalah adalah tidak semua venture company mengerti hal tersebut yang ada akhirnya terjadi sebuah hubungan yang tidak harmonis antara perusahaan dan investor yang akhirnya terjadi bentrokan kepentingan antara perusahaan dengan investor.

Faktor pengguna adalah faktor yang cukup menentukan bagi sebuah startup untuk bertahan karena kalau tidak ada pengguna, siapa yang akan menggunakan produk dari startup tersebut? Masalah pengguna ini memang gampang-gampang susah, karena sebenarnya kita tidak pernah benar-benar tahu mengapa seseorang  menggunakan layanan dan produk dari sebuah startup. Apakah karena kemudahannya? Apa karena keamanannya? Apakah karena masih gratis? Selain itu selera dan dari pasar di Indonesia yang sering berubah dengan cepat membuat sebuah startup harus lebih fleksibel dengan produk mereka tetapi tetap berfokus kepada penggunannya.

Kesimpulan

Startup Teknologi di Indonesia saat ini memang tidak berkembang secara signifikan seperti masa keemasannya dan hanya menyisakan nama-nama besar dengan bantuan dana yang cukup besar, sementara startup dengan dana yang pas-pasan saat ini masih mencoba untuk bertahan. Bukan tidak mungkin di tahun 2017 ini akan banyak lagi para Angel Investor yang mau untuk berinvestasi di startup teknologi Indonesia karena pada dasarnya pasar Indonesia masih banyak terbuka luas dan terus berkembang setiap tahunnya. Stay Awesome, buzzfriend!

Mengapa Film Logan Layak Menjadi Akhir Kisah Wolverine?

Di tahun 2017 ini memang banyak sekali film superhero yang akan dirilis. Salah satu film tersebut adalah film Logan yang merupakan film terakhir dari trilogi X-Men Origin : Wolverine. Film ini juga sekaligus mengakhiri tugas dari Hugh Jackman yang selama 17 tahun ini sudah memerankan mutan dengan cakar Andamantium ini. Selain itu, fillm Logan juga merupakan film terakhir dari Sir Patrick Stewart untuk memerankan tokoh Professor X dalam seri film X-Men.

Film Logan mendapatkan banyak sekali review positif dari segi ceritanya yang memang memiliki pendekatan berbeda dibandingkan dengan seri-seri film Wolverine dan X-Men sebelumnya. Hal membuat banyak kritikus film mengakui bahwa film ini adalah film yang paling layak untuk dijadikan sebagai film terakhir dari Wolverine.

Plot Film Logan

Film Logan

via uk.movies.yahoo.com

Film ini berlatar belakang di Amerika tahun 2029, dimana pada saat itu sudah tidak ada lagi mutan yang baru di Amerika Serikat. Mutan-mutan yang ada mati karena sebuah ‘obat’ yang disebarkan oleh Transigen yang membuat mutasi genetik dari mutan menjadi hilang.

Wolverine tinggal di daerah perbatasan Amerika dan Meksiko dan bekerja sebagai supir untuk menghidupi dirinya beserta Caliban dan juga Professor X yang sudah sakit dan menua serta tidak bisa lagi mengendalikan kekuatannya. Mereka berlindung dari para Reavers yang dipimpin oleh Donald Pierce, Kepala Keamanan Transigen, yang ingin memiliki kekuatan dari Professor X.

Hingga pada suatu hari, Logan mendapatkan pesanan untuk mengantarkan seorang anak perempuan bernama Laura ke sebuah wilayah di Dakota Utara yang disebut “Eden”. Ternyata Laura tidak hanya harus dia antarkan tetapi Loga juga harus menerima kenyataan bahwa Laura adalah anak dia sendiri yang harus dia lindungi dari Transigen.

Perjuangan Logan untuk mengantarkan Laura nyatanya memang tidak mudah karena kekuatannya sendiri sudah cukup berkurang akibat penuaan dan juga keracunan Andamantium yang mulai menggerogoti tubuhnya sendiri. Bagaimana akhir kisah Wolverine dalam film Logan ini? Secepatnya tonton di bioskop terdekat ya!

Mengapa Film Logan Menjadi Film Terbaik Wolverine?

Film Logan

via Creators.co

Film ini mengambil latar cerita dystopian ala film western dengan berbagai gimmick budaya populer macam komik X-Men dan juga film Western. Jika kalian menonton film Logan, sebenarnya kalian tidak menentukan film bergenre apa karena kalian akan mendapatkan berbagai macam genre di film ini. Ada bagian action yang penuh darah tetapi ada juga bagian yang cukup sedih dan menguras air mata, sambil diselingi beberapa adegan humor antara Wolverine dan Professor X.

Akting dari Hugh Jackman dan juga Sir Patrick Stewart patut kita acungi jempol karena chemistry keduanya dalam memainkan tokoh Wolverine dan juga Professor X benar-benar sangat memukau. Dalam satu adegan kita bisa merasa benar-benar sangat sedih, tetapi scene berikutnya kita bisa dibuat tertawa oleh adegan mereka berdua.

Penggambaran sosok Wolverine yang rapuh dan menujukkan sisi lembutnya, memberikan sebuah kesan baru dari sosok sangar dan liar yang biasa kita temukan dalam film-film Wolverine sebelumnya. Kali ini Wolverine nampak lebih seperti manusia biasa, walaupun masih bisa mengeluarkan cakar dari kedua tangannya.

Banyak kritikus memberikan pujian atas film Logan ini karena unsur cerita dan juga akting dari para aktornya yang memberikan sisi terbaru dari film bertema superhero. Film ini mendapatkan rating 92% dari rottentomatoes.com dan 8,6 di IMDB. Dengan nilai yang didapatkan tersebut rasanya memang tidak salah bila film Logan ini menjadi film terbaik untuk akhir dari Wolverine. Buat yang penasaran seperti apa filmnya, cek dulu aja trailernya dibawah ini ya. Stay awesome, buzzfriend!