Bagaimana Nasib Startup Teknologi Sebagai Bagian Dari Ekonomi Digital Indonesia?

Jika berbicara tentang startup teknologi di Indonesia, tentunya kita ingat startup Teknologi di Indonesia sempat mengalami masa-masa booming di periode tahun 2013 -2014. Startup-startup lokal asal Indonesia mulai dikenal oleh masyarakat secara luas, walaupun belum mendapat tempat secara signifikan. Sebut saja beberapa sstartup besar seperti Go-jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka yang menjadi perusahaan startup yang mendapat funding yang cukup besar dari berbagai venture company baik dari luar negeri ataupun dalam negeri dan akhirnya banyak mendapat pengguna di masa itu.

Tetapi pada masa-masa selanjutnya, startup di Indonesia seolah-olah mati langkah dan mulai berguguran satu per satu. Bahkan tahun 2015-2016, banyak startup yang kemudian harus menutup layanan mereka karena tidak mendapatkan pengguna yang signifikan sementara pendanaan sudah habis.

startup teknologi

Daftar startup yang tutup tahun 2015-2016. Sumber : katadata.co.id

Infografik diatas tentu saja angkanya lebih sedikit dibandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi di lapangan. Bahkan data statistik pada masa tersebut menunjukkan sebenarnya pada masa tersebut investasi untuk startup Indonesia sebenarnya malah meningkat.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi?

Ada beberapa faktor yang mungkin terjadi di sini sehingga banyak startup yang akhirnya harus tutup. Beberapa faktor yang mungkin terjadi yaitu :

Pendanaan yang tidak merata

Memang benar pendanaan pada masa tersebut sangat naik, tetapi tidak semua startup mendapatan kesemapatan untuk merasakan kucuran dana tersebut. Startup-startup yang tutup tersebut biasanya berada pada masa seed funding dan tidak mendapatkan series pendanaan selanjutnya.

Hal ini sangat mungkin terjadi karena investor tentu akan lebih memilih startup yang mampu mengembalikan modal mereka lebih cepat. Berinvestasi kepada startup yang belum memiliki model bisnis dan pangsa pasar yang belum jelas merupaka sebuah perjudian bagi investor dan yang pasti mereka tidak ingin rugi.

Kemungkinan pendaan tersebut jatuh kepada startup yang sudah memiliki brand dan pengguna besar, atau ke startup yang lebih baru dengan produk yang lebih baik.

Tidak Ada model Bisnis Yang Jelas

Ini kemungkinan kedua yang bisa terjadi kepada startup teknologi di Indonesia karena tidak sedikit startup yang hanya mampu membuat produk, layanan atau aplikasi tapi mereka sendiri bingung bagaimana cara menentukan monetasi untuk produk yang mereka hasilkan tersebut.

Bisa saja produk tersebut sangat keren dan memudahkan penggunanya, tetapi yang menjadi pertanyaan apakah akan ada pasar yang bersedia untuk membayar produk tersebut? Jika ya, seberapa besar? Apakah sudah ada produk sejenis? Bagaimana tingkat kompetisinya?  Serta berbagai macam hal lainnya yang mungkin tidak mereka sadari pada saat awal mendirikan startup tersebut.

Masalah Internal

Masalah internal dari founder biasnaya merupakan salah satu penyebab bubarnya sebuah startup. Selain masalah internal, hubungan startup dengan investor kadang menjadi sebuah duri dalam daging. Tabrakan antar kepentingan memang tidak bisa dihindari dan terkadang menutup layanan adalah jalan yang terbaik.

Tidak Ada Pengguna

Inilah yang menjadi salah satu bencana utama bagi para founder startup di Indonesia. Secara model bisnis sudah bagus, hubungan dengan investor baik, uang masih cukup untuk dibakar, produk sudah keren tetapi tidak pengguna yang tertarik untuk menggunakan layanan atau aplikasi yang mereka ciptakan.

Akhirnya bakar uang dengan promosi berbagai cara, tetapi tetap saja pengguna tidak tumbuh secara signifikan. Well, hal ini mungkin terjadi karena layanan atau produk tersebut memang tidak bermanfaat bagi penggunanya. Secara bahasa sekarang, tidak ada faedahnya.

Harus disadari bahwa minat seseorang mengadopsi atau menggunakan sebuah teknologi menurut Technology  Adoption Model dipengaruhi karena dua hal utama yaitu manfaat yang dirasakan dan kemudahan dalam penggunaannya. Bila kedua faktor tersebut sudah dipenuhi maka pengguna akan tertarik untuk menggunakannya.

Lalu, Bagaimana Nasib Startup Teknologi Di Indonesia Di Mendatang?

Seperti yang kita ketahui, Pemerintah Indonesia saat ini sedang membuat sebuah program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital. Apa itu Gerakan Nasional 1000 Startup Digital? Diambil dari lamannya, penjelasan dari gerakan ini mempunyai tujuan  mewujudkan potensi Indonesia menjadi The Digital Energy of Asia di tahun 2020 dengan mencetak 1000 startup yang menjadi solusi atas berbagai masalah dengan memanfaatkan teknologi digital.

Tujuan terbesar dari gerakan ini memajukan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia dengan cara membina para pemuda Indonesia agar mampu membuat startup digital yang menyelesaikan masalah bangsa dan mampu bertahan hingga nantinya menjadi sebuah perusahaan yang sustainable. Nah, keren kan?

Kegiatan ini diadakan di 10 besar di Indonesia melalui proses seleksi dan penyaringan dari para praktisi yang sudah berada di bidang startup teknologi di Indonesia. Nantinya startup dari setiap daerah akan diseleksi, kemudian dilakukan mentoring dan inkubasi untuk menjadi startup yang mampu menyelesaikan banyak permasalahan di daerahnya.  Untuk info lebih lanjut bisa kunjungi halamannya di sini.

Masih belum pasti sejauh apa bantuan Pemerintah nantinya di masa depan, apakah setelah setelah proses inkubasi para startup tersebut akan dibiarkan begitu saja untuk berkembang sendiri atau akan ada pengarahan lagi untuk mendapat funding sehingga mereka benar-benar bisa berjalan. Entahlah.

Tetapi di sini kita bisa melihat bahwa pemerintah sudah mulai melirik start up sebagai sebuah bagian penting dari ekonomi digital di Indonesia. Sampai membuat program yang cukup fantastis seperti ini. Pemerintah juga mengakui bahwa startup merupakan sebuah potensi penting yang akan sangat sayang bisa seluruhnya akhirnya hanya dimiliki oleh investor dari luar negeri.

Selain itu, bila melihat statistik Indonesia dari segi pengguna teknologi smartphone dan internet, Indonesia masih merupakan sebuah pasar yang cukup besar untuk ditaklukan. Dikutip dari katadata.com, sebuah survei yang dilakukan CLSA pada 2015 menunjukkan lebih dari 90% pengguna smartphone memerlukan waktu tidak kurang dari 2 jam per hari dalam menggunakan perangkat ponsel pintar. Bahkan, 32,5 persen pengguna smartphone ini membutuhkan lebih dari 8 jam untuk mengakses ponselnya.

Bayangkan seperti itulah pengguna smartphone di Indonesia menghabiskan waktunya!

Grafik: 33% Pengguna Akses Ponsel Pintar lebih dari 8 Jam/Hari
33% Pengguna Akses Ponsel Pintar lebih dari 8 Jam/Hari

Dengan jumlah pengguna smartphone lebih dari 90 juta pengguna dan transaksi ecommerce yang dipredikis akan mencapai angka $130 Miliar pada tahun 2020, sebenarnya startup teknologi di Indonesia masih punya kesempatan untuk terus berkembang. Tinggal masalahnya adalah bagaimana mampu mengkonversi peluang-peluang tersebut menjadi sebuah layanan atau produk yang mampu bermanfaat bagi masyarakat agar bisa digunakan.

Nah, buat buzzfriend yang merasa mempunyai ide atau niat untuk membuatatau mempunyai sebuah startup, tidak perlu khawatir dengan masa depan startup di Indonesia karena peluang masih terbuka banyak. Tinggal siapkan pikiran, modal dan yang paling mental untuk tidak menyerah dalam membuatnya. Stay awesome, buzzfriend!

Comments

comments